Bagaimana Cara Mudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Tahun ajaran baru untuk anak sekolah sudah akan dimulai. Bagi sebagian besar orangtua, persiapan anak untuk masuk tahun ajaran baru mungkin sudah diselesaikan dengan baik. Bagaimana menyiapakan dana pendidikan anak ?

Namun, bagi sebagian lain, mungkin masih harus mencari solusi karena tidak ada dana yang bisa digunakan untuk keperluan tersebut. Dana pendidikan anak memang sebaiknya direncanakan.

Prioritas untuk dana pendidikan juga harus lebih diutamakan dari mudik Lebaran maupun cicilan motor orangtua. Anda dan pasangan harus menentukan mau menyekolahkan anak ke mana.

Untuk sekolah, mau pilih sekolah negeri, sekolah nasional, sekolah nasional plus, atau sekolah internasional?

Bagi orangtua yang mendaftarkan anak ke sekolah negeri, memang saat ini uang sekolah sudah gratis. Tapi pahami, masih ada biaya lain seperti biaya seragam, biaya pengembalian buku pelajaran yang hilang, juga untuk kegiatan lain.

Orangtua juga mungkin harus mengeluarkan dana tambahan untuk bimbingan belajar di luar jam sekolah maupun les lainnya.

Dana inilah yang harus disiapkan setiap orangtua setidaknya setahun sebelumnya.

Bagi orangtua yang akan menyekolahkan anak ke sekolah swasta, persiapannya harus lebih maksimal lagi. Selain ada uang pangkal yang nilainya bisa melebihi Rp 5 juta per tahun, orangtua juga masih harus membayar uang bulanan.

Apalagi jika orangtua juga masih ingin memberikan les kepada anaknya.

Berapa Butuh Dana Pendidikan

Setelah penentuan sekolah, tahapan berikutnya adalah berdasarkan kebutuhan dana pendidikan.

Coba periksa aset yang menjadi tabungan atau investasi yang sudah Anda siapkan. Cukupkah?

Pertimbangan tingkat kenaikan harga harus dihitung juga. Contohnya, kebutuhan dana Rp 10 juta untuk tahun 2017 akan menjadi Rp 13,3 juta pada tahun 2020 dengan asumsi inflasi 10% per tahun.

Bayangkan, jika Anda mempersiapkan dana kuliah anak. Kalau saat ini saja nilainya Rp 100 juta, maka 10 tahun lagi akan menjadi Rp 260 juta.

Jika ternyata dana yang disiapkan belum cukup, inilah saatnya untuk merevisi perencanaan dana pendidikan anak.

Tabungan vs Asuransi Pendidikan

Banyak masyarakat yang bertanya, mana yang lebih baik: tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan?

Kedua produk ini punya fungsi yang agak berbeda.

Tabungan pendidikan lebih fokus pada unsur menabung, namun punya fitur jaminan jika Anda tidak sanggup meneruskan setoran.

Sedang asuransi pendidikan lebih fokus pada penggantian uang pertanggungan, tapi memberikan fitur pembayaran uang di periode tertentu. Fitur porsi asuransi hanya bermanfaat untuk memberikan perlindungan jaminan uang pertanggungan jika tertanggung dalam polis meninggal dunia.

Cuma, jika tidak terjadi kematian dalam masa berlaku polis, manfaat yang akan diterima hanyalah porsi tabungan saja.

Sebenarnya, dalam perencanaan dana pendidikan, untuk sampai pada target kebutuhan dana, yang harus dikejar adalah nilai investasinya.

Jika anak akan bersekolah dalam jangka waktu di bawah tiga tahun dan Anda belum punya modalnya, maka tabungan pendidikan tepat digunakan. Tapi, bila jangka waktu berinvestasi di atas tiga tahun, maka tingkat imbal hasil yang diberikan tabungan pendidikan sepertinya tidak sanggup melawan inflasi pendidikan 10% per tahun atau lebih.

Opsi yang lebih optimal adalah melakukan investasi secara terpisah khusus untuk dana pendidikan anak.

Pilihan Instrumen

Berikut pilihan instrumen investasi yang tepat untuk kebutuhan dana pendidikan di atas tiga tahun:

Pertama, reksadana campuran. Produk ini memiliki fitur risiko yang sedang dan sesuai untuk jangka waktu investasi di atas tiga tahun. Pembelian reksadana bisa dimulai dengan Rp 500.000 per bulan, sehingga sangat cocok untuk kebutuhan dana pendidikan antara 3 tahun hingga 10 tahun lagi.

Kedua, reksadana saham. Dengan potensi tingkat imbal hasil yang bisa mencapai 15% per tahun secara rata-rata, maka produk ini tentu saja sangat sesuai buat melawan inflasi pendidikan untuk kebutuhan di atas lima tahun lagi. Biasanya, orangtua disarankan untuk membeli reksadana saham setiap bulan guna kebutuhan dana pendidikan kuliah bagi anak mereka yang masih berusia di bawah 10 tahun.

Ketiga, Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan sukuk ritel. Produk ini sangat cocok untuk Anda yang sudah punya modal untuk biaya sekolah tiga tahun sampai empat tahun lagi. Tapi, Anda ingin mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari tabungan biasa. Risiko kehilangan modalnya sangat kecil bila aset investasi Anda tahan hingga jatuh tempo.

Keempat, logam mulia. Bisa dibeli dengan satuan satu gram, sangat cocok untuk Anda yang mempersiapkan dana pendidikan dua tahun hingga lima tahun lagi. Anda bisa membeli rutin emas setiap bulan, persis seperti menabung biasa.

Kesimpulan

Jika Anda memilih untuk mengatur sendiri dana pendidikan anak, jangan lupa untuk membeli asuransi jiwa murni bagi pencari nafkah utama. Tujuannya adalah memproteksi penghasilan bulanan, bila pencari nafkah meninggal dunia dalam jangka waktu menabung.

Sementara bagi Anda yang tidak mau repot dan tidak bisa berkomitmen, produk kemasan berlabel “pendidikan” tentu saja akan lebih nyaman.

Namun, secara umum Anda akan mengeluarkan dana lebih besar untuk mencapai target kebutuhan dana dibandingkan dengan mengatur investasi sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *