Strategi Reksadana Saham saat Indeks IHSG Naik Tajam

Ketika IHSG naik tajam, apa yang harus dilakukan oleh investor Reksadana Saham ?

Kendati dana kelolaan sepanjang Oktober 2017 meningkat, nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana saham merosot 2,19% akibat aksi penjualan investasi atau redemption.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB reksa dana per Oktober 2017 meningkat 3,5% (month to month/ mtm) menjadi Rp428,53 triliun, dari sebelumnya Rp414,03 triliun.

Pertumbuhan dana kelolaan tersebut mencatatkan level tertinggi sejak Agustus 2017 yang mengalami kenaikan 4,10%. Namun demikian, pada bulan lalu NAB reksa dana saham merosot 2,19% menjadi Rp112,71 triliun dari September 2017 sejumlah Rp115,23 triliun.

Padahal, NAB reksa dana lainnya mengalami peningkatan pada Oktober 2017. Komposisi reksa dana saham terhadap total NAB bulanan pada Oktober 2017 juga merosot menjadi 26,30%.

Pada September 2017, dana kelolaan reksa dana saham mencakup 27,83% total keseluruhan NAB. Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengungkapkan, menurunnya NAB reksa dana saham pada Oktober 2017 menjadi ironi, karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil menembus level 6.000 dan rekor tertinggi baru.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi IHSG pada 29 September 2017 berada di level 5.900,85. Indeks kemudian mengalami tren menanjak dan mencapai puncaknya pada 25 Oktober 2017 di level 6.025,43.

Penyebab Turunnya NAB Reksadana Saham

Menurutnya, ada dua kemungkinan investor melakukan redemption pada Oktober, sehingga NAB reksa sana saham mengecil.

Pertama, nasabah memilih merealisasikan keuntungannya lebih awal daripada menunggu 2 bulan sebelum periode 2017 berakhir. “Ada kemungkinan ketika IHSG mencapai 6.000, target investor sudah tercapai, sehingga mereka melakukan redemption lebih cepat. Mereka mengkhawatirkan return [produk reksa dana saham] bulan kemarin adalah yang tertinggi,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Senin (6/11).

Kedua, sambung Hanif, nasabah menunggu indeks mengalami koreksi untuk kembali melakukan pembelian, sehingga NAB reksa dana saham dapat kembali meningkat. Pasalnya, mayoritas pelaku pasar meyakini IHSG berpeluang kembali mencatatkan rekor tertinggi.

Direktur Panin Assset Management Rudiyanto mengungkapkan penurunan dana kelolaan reksa dana saham pada Oktober seiring dengan IHSG yang menembus level baru.

Hal tersebut membuat investor melakukan profit taking. “Penurunan dana kelolaan reksa dana saham kemungkinan besar disebabkan investor profit taking ketika indeks mencapai rekor,” ujarnya, Senin (6/11).

Apa yang Dilakukan Investor ?

Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat investor melakukan aksi profit taking. Salah satunya masuk ke produk reksa dana baru.

“Setahu saya ada banyak reksa dana terproteksi yang baru,” tambahnya. Berdasarkan data OJK, dana kelolaan reksa dana terproteksi memang mengalami pertumbuhan sebesar 2,8% secara MoM dari Rp99,27 triliun menjadi Rp102,05 triliun pada akhir Oktober 2017.

Adapun, sepanjang Oktober, dana kelolaan reksa dana saham Panin mengalami penurunan dari Rp6,26 triliun menjadi Rp6,12 triliun. Sementara itu, dana kelolaan reksa dana terproteksi, pendapatan tetap, dan pasar uang Panin AM mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 4,19%, 35% dan 11,07%.

Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan Sujanto mengatakan sepanjang Oktober 2017, subscription reksa dana tercatat Rp68,86 triliun, sedangkan redemption sebesar Rp48,72 triliun. “Jadi masih net subscription sebesar Rp20,14 triliun pada Oktober,” katanya kepada Bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *