Investasi Reksadana Syariah, Tidak Hanya Ibadah, Tetapi Untung

Reksadana syariah adalah pionir bagi industri pasar modal syariah di Indonesia. Namun, sayangnya, dibanding para pengikutnya, return reksadana syariah termasuk salah satu yang paling mungil. Tetapi, Reksadana Syariah ini sebenarnya tidak hanya untuk Ibadah tetapi juga memberikan keuntungan finansial.

Industri reksadana syariah memang terus tumbuh. Berdasar data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam lima tahun terakhir jumlah produknya rata-rata tumbuh 20,56%. Sementara Nilai Aktiva Bersih (NAB) naik 6,95%.

Namun, dibanding produk konvensional, reksadana syariah masih belum ada apa-apanya. Per Juni 2017, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana syariah “hanya” Rp 18,02 triliun, setara 4,82% dari total nilai efek Reksadana di Indonesia.

Dari sisi penguasaan pasar, produk ini hanya menang dari sukuk korporasi yang menguasai 4,41% market share. Kondisi ini sejalan dengan industri reksadana secara keseluruhan. Total NAB reksadana hingga 2 Juni 2017 memang “cuma” Rp 373,95 triliun dan hanya menang dari sukuk korporasi yang mencapai Rp 332,28 triliun.

Tingkat partisipasi masyarakat Indonesia pada investasi di reksadana, termasuk reksadana syariah, memang masih relatif rendah.

Sebagai gambaran, hasil survei Manulife Investor Sentiment Index yang dirilis pada kuartal I 2017 mengungkap bahwa mayoritas (94%) masyarakat Indonesia masih menganggap menyimpan uang di tabungan dan deposito sebagai bentuk investasi.

Pemahaman yang salah ini akibat ketidaktahuan atau masih rendahnya pengetahuan finansial masyarakat kita.

Survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang digelar OJK tahun lalu juga menunjukkan hal yang serupa. Hasil survei tersebut menunjukan tingkat literasi masyarakat atas pasar modal syariah sebesar 0,02% dan tingkat inklusi masyarakat atas pasar modal syariah sebesar 0,01%.

Belakangan, OJK dan industri reksadana kian gencar menggelar program edukasi. Termasuk mempermudah investor yang ingin membeli reksadana.

Ada dua faktor yang mendorong hal ini.

Pertama, peningkatan minat investor yang mencari instrumen investasi berbasis syariah. Kedua, rilis peraturan OJK yang memungkinkan penerbitan reksadana syariah berbasis efek luar negeri.

Perkembangan reksadana syariah paling tidak bisa dilihat dari tren pertumbuhan jumlah produknya. Sepanjang tahun lalu ada 39 produk baru reksadana syariah yang dirilis Manajer Investasi. Tren positif tersebut terus berlanjut hingga sekarang.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, Sejak awal tahun 2017 hingga 2 Juni 2017, ada 16 reksadana syariah baru yang ditawarkan ke investor. Jumlah reksadana syariah yang beredar bertambah menjadi 149 produk, atau meningkat 9,56% (ytd).

Jenisnya beragam, mulai dari reksadana saham syariah, pendapatan tetap, campuran, dan pasar uang.

Minat investor terhadap produk reksadana syariah juga cukup besar. Sepanjang tahun lalu, jumlah pemegang rekening reksadana syariah tumbuh 10,28%, dari 63.137 menjadi 69.629 pemegang rekening.

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) merasakan betul tingginya animo investor syariah ini. Pada bulan Mei lalu MAMI meluncurkan reksadana pendapatan tetap syariah yang diberi nama Manulife Syariah Sukuk Indonesia (MSSI).

Produk ini diluncurkan setelah adanya peningkatan kebutuhan masyarakat Indonesia akan solusi investasi yang dikelola sesuai dengan prinsip syariah dan memiliki fitur serta tingkat risiko yang tidak jauh berbeda dengan tabungan dan deposito.

Reksadana MSSI ditawarkan bagi investor syariah yang memiliki profil risiko konservatif. Ini tercermin dari kebijakan investasinya. Sebanyak 85%-100% dari aset yang dikelola diinvestasikan di sukuk pemerintah maupun korporasi dengan jangka waktu di atas satu tahun.

Sementara 0% hingga 15% ditempatkan di instrumen pasar uang syariah dengan jangka waktu di bawah satu tahun.

Produk ini memiliki tolok ukur deposito bank syariah + 2%, netto setelah pajak. Oleh karena itu, Reksadana MSSI akan berinvestasi pada sukuk dengan durasi pendek.

Nah, sejak diluncurkan pada 12 Mei 2017, Reksadana MSSI mendapatkan respons positif dari para investor. Belum genap sebulan, jumlah dana kelolaan reksadana MSSI telah mencapai Rp 22,9 miliar milik 190 investor institusi dan individu.

Bukan hanya di MSSI, secara keseluruhan minat investor terhadap reksadana syariah yang dirilis MAMI juga terbilang besar. Hingga akhir Maret 2017, MAMI mengelola dana sebesar Rp 54 triliun melalui 23 produk reksadana dan 43 KPD (Kontrak Pengelolaan Dana).

Dari 23 produk reksa dana yang dikelola oleh MAMI, yang memiliki jumlah investor paling banyak adalah reksadana syariah. Tercatat ada 35% investor reksadana MAMI yang berinvestasi di reksadana Manulife Syariah Sektoral Amanah (MSSA), Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF), dan MSSI.

Kinerja bervariasi

Minat investor dan jumlah produk yang diterbitkan makin banyak, lantas bagaimana dengan kinerjanya? Lantaran sifatnya yang lebih agresif, reksadana saham syariah menjanjikan tingkat pertumbuhan yang lebih baik.

Hingga akhir tahun 2017 diproyeksikan, reksadana saham syariah bisa tumbuh sekitar 8%- 10%. Reksadana campuran syariah 7%-8% dan pendapatan tetap 6%-8%.

Meski nantinya diprediksi akan menjadi yang terbaik, hingga saat ini kinerja reksadana saham syariah masih melempem.

Data Infovesta Utama menyebut, hingga 6 Juni 2017, Infovesta Sharia Equity Fund Index cuma tumbuh 1,826% (year-to-date/ytd). Kinerjanya jauh di bawah Infovesta Sharia Balanced Fund Index yang 2,294% dan Infovesta Sharia Fixed Income Fund Index yang paling cemerlang lantaran tumbuh 5,15%.

Sebagai acuan, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam rentang waktu yang sama sudah 7,762%.

Kinerja indeks reksadana saham yang tertekan sejauh ini tidak lepas dari harga komoditas yang terus berfluktuasi dengan kecenderungan terkoreksi. Dampaknya menjalar hingga ke harga saham syariah yang bermain di sektor komoditas.

Dibanding jenis konvensional, reksadana saham syariah juga cenderung memble. Kondisi tersebut dipicu oleh membaiknya kinerja saham-saham sektor finansial yang didominasi oleh saham perbankan konvensional. Namun tidak termasuk dalam kategori efek syariah.

Dari awal tahun sampai dengan akhir Mei 2017, kinerja saham sektor finansial naik 13,23% dan menjadi salah satu sektor yang menjadi pendorong penguatan IHSG sebesar 8,33%. “Dalam periode yang sama, indeks saham syariah ISSI hanya naik 6,42%.

Bertambahnya jumlah saham pengisi Daftar Efek Syariah (DES) memang menambah pilihan bagi Manajer Investasi (MI). DES terbaru dan berlaku mulai 1 Juni 2017 hingga akhir November 2017 berisi 351 efek syariah.

Pilihan bagi reksadana syariah masih lebih terbatas dibanding reksadana konvensional yang bisa masuk ke sektor keuangan.

Dampaknya, pengelola reksadana saham syariah lebih terbatas dalam melakukan diversifikasi. Meski begitu, dalam jangka menengah dan panjang, faktor peringkat layak investasi yang disandang Indonesia bisa berpengaruh positif ke kinerja saham yang menjadi underlying reksadana syariah.

Untuk reksadana yang berbasis instrumen pendapatan tetap, proyeksinya juga cenderung positif. Jumlah sukuk yang bisa menjadi pilihan portofolio terus bertambah.

Berdasar data hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dikumpulkan KONTAN, sepanjang tahun ini nilainya mencapai Rp 64,821 triliun. Ini tidak termasuk sukuk global yang diterbitkan 29 Maret 2017 lalu senilai US$ 3 miliar.

Sukuk negara secara rata-rata memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi negara dengan tenor yang sama. Selain itu, salah satu sentimen yang akan mempengaruhi kinerja reksadana syariah berbasis instrumen pendapatan tetap sepanjang tahun ini adalah rencana The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya (Fed fund rate).

Tahun ini The Fed diprediksi akan menaikan suku bunga acuan dua kali lagi, masing-masing sebesar 0,25%.

Ketika kebijakan The Fed terkait suku bunga acuan berhembus di tahun 2015, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) melemah hingga 10,89% (yoy). Di saat bersamaan, imbal hasil SUN bertenor 10 tahun merangkak naik 1,08% (yoy) dan menekan kinerjanya.

Memasuki tahun 2016 hingga 23 Mei 2017, sentimen global cenderung lebih dapat dikendalikan oleh pemerintah. Nilai tukar cenderung menguat stabil meski The Fed telah menaikan suku bunga acuan yang pertama sebesar 0,25%.

Berikutnya, imbal hasil surat utang negara menyusut dan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) meningkat. Lalu, S&P memberikan investment grade kepada rating Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *