5 Faktor Penting Strategi Memilih Investasi Reksadana

investor bertanya‐tanya apakah merupakaan saat yang tepat membeli reksadana atau menunggu bila pasar kembali pulih. Bagaimana caranya memilih investasi Reksadana terbaik?

Pada dasarnya kapanpun investor mulai berinvestasi tidak banyak berpengaruh pada investasi untuk jangka panjang.

Pemilihan reksadana yang sesuai dengan tujuan investor lebih penting dari market timing untuk masuk.

Lalu faktor apa saja yang sebaikknya diperhatikan dalam memilih reksadana?
Berbagai pengalaman buruk di masa lalu pada industri reksadana menunjukkan investor tidak dapat lagi mendasari keputusan investasi hanya berdasarkan kinerja return semata.

Pertanyaannya adalah selain total return, Apa saja kriteria‐kriteria lain yang dapat menjadikan reksadana tersebut adalah reksa dana yang baik yang dapat menjadi preferensi investor dalam menentukan reksa dana yang menjadi pilihan investasinya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut investor perlu melihat beberapa faktor utama, Faktor‐ faktor memilih reksa dana itu antara lain:

#1 Rasa Aman

Memberikan rasa aman bagi investor. Rasa aman yang dimaksud disini bukanlah rasa aman dalam bentuk jaminan yang diberikan, akan tetapi rasa aman dalam bentuk Asset Under Management (AUM) / jumlah dana kelolaan.

Baik jumlah dana kelolaan dari Manajer Investasi maupun dari produk yang ditawarkan.

Khusus untuk produk reksadana perlu diingat bahwa sesuai peraturan OJK maka reksadana yang dana kelolaanya dibawah Rp 25 miliar selama 90 hari berturut‐turut dapat dilikuidasi.

Hal ini membuat reksadana dengan dana kelolaan kecil dapat terpapar risiko karena bila likuidasi dilakukan saat portfolio negatif maka investor dipaksa merealisasikan kerugiannya.

Dana investor akan terasa lebih ’aman’ jika diinvetasikan pada reksa dana yang memiliki dana kelolaan yang relatif besar dan terus tumbuh.

Dana yang besar dapat menjadi salah satu indikator dalam menunjukkan soliditas suatu reksa dana dalam menghadapi penarikan dalam jumlah besar, sedangkan pertumbuhan jumlah unit penyertaan dapat menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap produk reksa dana tersebut.

#2 Risk Return

Memberikan tingkat return yang optimal yang sesuai dengan tingkat resiko yang ditanggungnya.

Reksa dana yang optimal yaitu reksa dana yang memberikan tingkat return yang lebih besar dibandingkan dengan tingkat resiko yang ditanggungnya.

Tentunya kinerja reksa dana yang optimal harus menunjukkan konsistensinya dalam jangka panjang.

Pengukuran kinerja Reksa Dana berdasarkan risk and return dapat diukur dengan menggunakan metode sharpe ratio. Sharpe ratio dihitung dengan membagi excess return reksa dana terhadap instrumen bebas resiko (SBI) dibagi dengan standar deviasi (resiko) return reksa dana.

Semakin tinggi sharpe ratio semakin baik pula kinerja reksa dana tersebut . namun perlu diingat dalam memilih reksadana besar kecilnya angka bukan menjadi acuan, akan tetapi besarnya sharpe ratio dibandingkan dengan reksa dana lain yang dijadikan acuan.

Semakin tinggi peringkatnya dibanding reksadana lain, maka bisa dikatakan reksa dana tersebut lebih baik.

#3 Kualitas Portfolio

Isi portofolio yang berkualitas. Reksa dana baik tentu saja harus memiliki isi portofolio dengan likuiditas yang tinggi sehingga dapat menjaga kewajaran nilai NAB‐nya.

Untuk saham, investor dapat melihat apakah saham yang dimiliki termasuk dalam kategori LQ‐45 atau Kompas‐100, sedangkan kualitas obligasi dapat dilihat dari ratingnya.

Dengan kualitas portofolio yang tinggi, para Manajer Investasi akan lebih mudah dalam menjual portofolio apabila terjadi penarikan sehingga kewajaran NAB dapat dipertahankan.

Tentunya investor tidak ingin mendapati nilai NAB reksa dana yang tinggi akan tetapi langsung anjlok begitu melakukan redemption.

#4 Kepatuhan Prospektus

Komposisi investasi yang sesuai dengan kebijakan investasi yang ditetapkan dalam prospektus dan peraturan OJK yang berlaku. Ini penting agar Reksadana bisa berjalan sesuai regulasi yang ada.

#5 Biaya Murah

Memiliki struktur biaya yang murah. Struktur biaya yang murah ini dapat dilihat dengan biaya masuk (subscription fee), biaya manajemen (management fee) dan biaya keluar (redemption fee) yang rendah.

Umumnya investor yang berinvestasi dalam jumlah besar dikenakan biaya lebih kecil atau tidak sama sekali dibandingkan investor yang nilai investasi kecil. Hal ini berlaku baik untuk reksa dana yang dijual langsung ataupun yang dijual melalui Bank Agen Penjual .

Kesimpulan

Perlu diperhatikan bahwa semua faktor‐faktor yang disebutkan di atas merupakan aspek‐aspek kuantitatif. Keyakinan investor dalam berinvestasi tentunya akan meningkat jika didukung dengan data‐data kuantitatif yang memadai.

Namun perlu diperhatikan, selain berinvestasi dengan penuh keyakinan, ada baiknya pula jika investor dapat berinvestasi dengan penuh kenyamanan. Kenyamanan dalam berinvestasi dapat tercipta bila terdapat investor memberikan kepercayaan kepada Manajer Investasi yang mengelola dananya.

Hubungan kepercayaan ini dapat dipupuk melalui komunikasi yang lebih intensif dalam bentuk investor gathering, program edukasi maupun pemberian update secara berkala kepada investor

One Reply to “5 Faktor Penting Strategi Memilih Investasi Reksadana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *